Muzuro's Blog

Perbedaan Jatuhnya Hari Raya, masalah Syariah dan Ilmiah, Hisab dan Ru’yat

Posted on: Agustus 25, 2011

Oleh : Muhammad Zuhdi, S.Si., M.T.

Awal Romadlon tahun 1432 H telah diketahui bersama jatuh pada hari senin tanggal 1 Agustus 2011, sedangakan Hari Raya Iedul Fitri 1 syawal 1432 H diperkirakan akan jatuh pada hari selasa 30 Agustus 2011 dan rabu 31 Agustus 2011. Mengapa ada 2 tanggal masehi berbeda untuk 1 syawal tahun ini? Awal bulan syawal jatuh pada tanggal 30 Agustus adalah hasil perhitungan astronomi matematis atau yang sering disebut dengan hisab, sedangkan hari rabu tanggal 31 Agustus 2011 adalah hasil perkiraan yang mendasarkan awal bulan baru dengan melihat hilal (bulan) yang sering disebut dengan ru’yat.
Ada beberapa cara untuk menentukan awal bulan baru pada kalender hijriyah, yang paling banyak diikuti adalah cara hisab dan ru’yat dan cara-cara lain yang mendasarkan pada “gejala alam”. Hisab adalah suatu cara yang digunakan di kalangan Muhammadiyah secara resmi, sedangkan ru’yat di pakai oleh kalangan Nahdatul Ulama. Organisasi Islam tertentu yang biasanya terpencil dan memiliki sedikit pengikut dan kurang terpelajar kadang memilih cara lain dengan memakai gejala alam sebagai dasar. Cara-cara yang disebut terakhir ini tidak dapat dipertanggung jawabkan secara syari’ah maupun ilmiah.

Memahami Hisab dan Ru’yat
Sebagai mana yang kita amati, matahari selalu terbit di ufuk timur dan tenggelam di ufuk barat sehingga tampak bergerser dari timur ke barat sepanjang hari. Demikian juga bulan dan bintang-bintang, ia bergeser dari timur ke barat seiring waktu. Jika kita lebih teliti, maka kita akan tahu bahwa kecepatan pergeseran matahari adalah 15 derajat per jam, sedangkan bulan 14,492 derajat per jam. Perbedaan kecepatan itulah yang menyebabkan timbulnya fase-fase bulan.
Jika hari ini matahari tenggelam dan tampak bulan sabit tipis diatas ufuk barat, maka pada malam ini kita memasuki bulan baru, dan besok dikatakan tanggal 1 bulan qomariah. Hari berikutnya, ketika matahari tenggelam sempurna, maka bulan tampak berbentuk sabit dengan ukuran lebih besar dan posisi lebih tinggi. Demikian pula pada hari berikutnya. Di tanggal 7 bulan qomariah, posisi bulan berada tepat diatas kepala kita ketika matahari tenggelam. Pada tanggal 15 (bulan purnama) bulan tepat terbit di ufuk timur ketika matahari tenggelam.
Perbedaan kecepatan pergeseran bulan dan matahari mengakibatkan suatu saat bulan disalip oleh matahari, kondisi ini disebut dengan ijtima’. Jika ijtima, terjadi di waktu dhuha, maka dapat dipastikan malam nanti adalah bulan baru. Perlu difahami bahwa pergantian tanggal pada kalender matahari (syamsiah) adalah jam 00.00 waktu setempat, sedangkan pada kalender qomariyah pergantian tanggal terjadi setelah magrib. Jika kita melihat bulan di saat buka puasa di akhir romadlon, maka kita telah sholat maghrib dan isya’ pada tanggal 1 syawal dan tarowih tidak dilaksanakan lagi, karena tarowih hanya dilaksanakan di bulan romadlon.
Pada awalnya, penentuan tanggal 1 tiap bulan dilakukan dengan ru’yat atau melihat bulan dengan teropong. Dengan pesatnya perkembangan ilmu astronomi dan komputasi, maka sangat memungkinkan melakukan prediksi dengan sangat tepat terhadap jatuhnya awal bulan, dan cara ini disebut hisab. Hisab juga telah dipakai untuk semua madzhab, baik muhammadiyah maupun NU untuk menetukan waktu imsak, fajar dan waktu sholat. Dengan ilmu hisab, kita dapat menentukan jatuhnya hari raya 200 tahun yang akan datang, bahkan termasuk waktu sholat, imsak dan fajar.

Mengapa berbeda?
Pada dasarnya, hisab dan ru’yat adalah gabungan antara keduanya. Kalangan Muhammadiyah yang memakai hisab tidak akan pernah dapat menghitung tanpa referensi ru’yat sebelumnya, sedangkan kaum NU yang memakai ru’yat tidak pernah dapat membuat kalender dan menetapkan waktu sholat jika tanpa hisab. Lantas mengapa keduanya bisa berbeda?
Jika ijtima’ terjadi sekitar setelah waktu adzan ashar di akhir romadlon, maka dapat dipastikan bulan belum wujud, sehingga esok hari masih romadlon. Jika ijtima’ terjadi sekitar 4 jam sebelum maghrib, maka kalangan ahli hisab menggap hilal sudah wujud dengan ketinggian sekitar 2 derajat diatas ufuk, sedangkan para peru’yat akan kesulitan melihat hilal (gagal) karena terlalu pendek (dekat dengan ufuk). Artinya para penganut hisab menganggap esok adalah Hari Raya Iedul Fitri, sedangkan para penganut ru’yat masih menganggap esok adalah hari terakhir bulan romadlon. Jika ijtima’ terjadi 9 jam sebelum maghrib, maka saat matahari tenggelam hilal berada 4,5 derajat diatas ufuk sehingga mudah dilihat dan hampir dapat dipastikan bahwa esok hari adalah 1 syawal, kecuali seluruh langit tertutup mendung sehingga hilal tidak dapat dilihat maka penganut ru’yat akan memilih menggenapkan puasa menjadi 30 hari.
Dari penuturan diatas dapat disimpulkan bahwa jika ijtima’ terjadi setelah ashar maka penghisab maupun peru’yat sepakat esok masih romadlon, sedangkan jika terjadi saat dhuha atau sebelumnya maka keduanya sepakat bahwa esok adalah 1 syawal. Jika kita lihat dengan teliti terdapat waktu kritis ijtima’ yang memungkinkan terjadinya perbedaan yaitu sekitar 5 jam, sehingga kemungkinan untuk terjadinya perbedaan adalah sekitar 5/24 atau sekitar 21%. Ini berarti hampir tiap 5 tahun sekali terjadi perbedaan jatuhnya hari raya bagi penganut hisab dan ru’yat, demikian juga potensi perbedaan 5 tahun sekali untuk awal romadhon.

Syariah dan Ilmiah
Bagaimana hukum perbedaan keduanya secara syariah? Dalam kasus 1 syawal tahun ini, jika kita menilik perintah rosulullah untuk melihat bulan di akhir romadlon saya yakin hilal tidak akan tampak dan rosulullah memerintahkan untuk menggenapkan puasa 30 hari. Argumen inilah yang dipakai oleh para penganut ru’yat. Sementara para penganut hisab yang mengedepankan ilmu (hadist nabi: Ilmu itu kehidupan Islam dan tiangnya Iman) menganggap bahwa rosullah sangat terbuka terhadap ilmu dan jika menilik akurasi komputasi saat ini rosulullah akan mengijinkan bahkan mendorong umatnya memakai cara hisab.
Ada suatu wacana untuk menyatukan kedua perbedaan tersebut dengan saling mengalah, yaitu mengangkat hilal menjadi setinggi 3,5 derajat bagi para penghisab sebagai syarat hilal sudah wujud dan meyakinkan para peru’yat bahwa 3,5 derajat dapat dipastikan bahwa hilal pasti tampak sehingga mendungpun akan diabaikan. Namun keduanya masih menolak wacana penyatuan tersebut dengan alasan keduanya tidak sesuai madzhab masing-masing.
Masalah hisab dan ru’yat adalah masalah khilafiyah yang harus di sikapi dengan sangat bijaksana. Suatu kisah ketika sebuah pesantren Muhammadiyah kedatangan tamu seorang ulama besar NU, saat itu imam sholat subuh yang adalah pemimpin pesantren mengumumkan bahwa sholat subuh pada pagi hari ini memakai qunut karena menghormati Ulama besar NU tersebut. Kalangan nahdhiyin juga memiliki kisah toleransi yang indah terhadap madzhab lain. Dari contoh diatas tidak sepatutnya kita memperuncing perbedaan keduanya dan hendaknya mengedepankan toleransi. Jatuhnya hari raya yang berbeda jangan lantas mengendurkan tali silaturrohmi dan jalinan ukhuwah islamiyah.

Manakah yang benar?
Dalam hal hisab dan ru’yat, keduanya adalah benar. Menurut para ulama keduanya memiliki argument yang sama kuat dan tak perlu dipersoalkan lebih jauh lagi. Lantas mana yang salah? Jawabannya cukup jelas, yaitu mereka yang tidak melaksanakan puasa dan ibadah selama romadlon padahal mengaku muslim.
Ada pula penganut yang memilih cara gampang dan lebih ringan, dengan mengikuti cara ru’yat (belakangan) untuk awal romadlon dan mengikuti hasil hisab (lebih cepat) untuk mengahiri romadlon. Ini adalah sikap tidak konsisten yang cenderung ingin mengurangi durasi ibadah, golongan ini biasanya diikuti mereka yang ogah-ogahan dalam ibadah. Ada pula yang sebaliknya, untuk mencari “aman” mereka mengawali romadlon dengan hisab dan mengahirinya dengan ru’yat, golongan ini juga termasuk tidak konsisten. Yang terbaik adalah mengikuti hisab saja atau ru’yat saja, ini lebih dapat dipertanggung jawabkan secara syariah dan inysa Allah maqbul.
Bagaimana pula dengan kelompok yang mengawali puasa 2 hari sebelum hilal wujud atau mengawali puasa 2 hari setelah hilal wujud? Secara syari’ah maupun ilmiah kelompok ini jauh dari kata benar. Kelompok ini mendasarkan awal dan akhir Romadhon dengan memakai kalender yang sudah diyakini turun-temurun, ada juga yang berdalih memakai gejala alam untuk menentukan pergantian bulan. Kelompok ini hampir tidak memahami perintah rosul maupun mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, dan mereka saya yakini juga kecil kemungkinan membaca tulisan ini. Kelompok ini secara kasat mata tidak memiliki dasar syariah maupun ilmiah dalam urusan ibadah. Alhamdulillah MUI sudah mulai memberikan pencerahan kepada kelompok ini.
Semoga tulisan ini membuat kita lebih bijak dan toleran terhadap perbedaan diantara sesama muslim. Apalah artinya perbedaan kecil dalam menentukan hari raya, dibandingkan besarnya kemenangan dan agungnya tali ukhuwah. Ambilah salah satu dari keduanya, hisab atau ru’yat, insya Allah keduanya maqbul. Jika kita termasuk orang yang kurang dapat memahami masalah tersebut, ada baiknya jika kita mengikuti pengumuman resmi dari pemerintah. Wallahu’alam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Kategori

%d blogger menyukai ini: